In Indonesia, 3 Muslim Girls Fight for Their Right to Play Heavy Metal

JAKARTA, Indonesia — The three teenage girls — shy and even seeming slightly embarrassed as they peer out from their Islamic head scarves — do not look much like a heavy metal band.

But a dramatic change occurs when they take the stage. All pretense of shyness or awkwardness evaporates as the group — two 17-year-olds and one 15-year-old — begin hammering away at bass, guitar and drums to create a joyous, youthful racket.

They are Voice of Baceprot, a rising band in Indonesia, a country where heavy metal is popular enough that the president is an avowed fan of bands like Metallica and Megadeth.

But beyond blowing away local audiences with their banging music, the three girls are also challenging entrenched stereotypes about gender and religious norms in the world’s most-populous Muslim-majority nation.

“Baceprot” (pronounced bachey-PROT) means “noise” in a common dialect in the West Java region, where the girls live and attend high school in a rural town, Singajaya.


Continue reading the main story
RELATED COVERAGE

JAKARTA JOURNAL
Jakarta, the City Where Nobody Wants to Walk AUG. 20, 2017

Rock’s Not Dead, It’s Ruled by Women: The Round-Table Conversation SEPT. 1, 2017

Indonesia Sets Stage for Crackdown on Hard-Line Islamist Groups JULY 12, 2017

In Indonesia, Chinese Deity Is Covered in Sheet After Muslims Protest AUG. 10, 2017

In Indonesia’s Dysfunctional Prisons, Escapes Aren’t the Half of It AUG. 19, 2017
They say they want to prove that they can be observant Muslims while also playing loud music and being independent.

“A hijab and metal music are different,” said Firdda Kurnia, 17, the guitarist and lead singer, referring to the traditional Muslim head scarf she and her bandmates wear. “A hijab is my identity, and metal is my music genre.”

In finding their voices and becoming a band, they say they have endured criticism from their families, friends and neighbors, and have received hundreds of online death threats for supposedly blaspheming Islam and not acting like proper Muslim girls — in other words, submissive, they said.

One night, while riding motorcycles home from a recording studio, they were pelted with rocks wrapped in paper inscribed with profane messages.

But they have fought back, through songs about intolerance, gender equality and the rights of young people in a country where issues like forced underage marriage are still prevalent, especially in rural areas like West Java.

Their tenacity is paying off. Last month, they performed before a crowd of 2,000 senior government officials, business leaders and student groups in the capital, Jakarta, as part of a celebration of the country’s 72nd independence anniversary.

Ms. Firdda and her bandmates — the drummer, Eusi Siti Aisyah, 17, and the bassist, Widi Rahmawati, 15 — have been friends since childhood.


https://www.nytimes.com/2017/09/02/world/asia/indonesia-voice-of-baceprot-girls-heavy-metal.html

Simak Aksi Voice of Baceprot, Band Hijab Beraliran Metal

JAKARTA, KOMPAS.com - Band metal asal Singajaya, Garut Selatan, yakni Voice of Baceprot (VoB) unjuk kebolehan mereka dalam bermusik di @america, Pacific Place Mall, Jakarta Selatan, Sabtu (19/8/2017).

VoB yang terdiri dari Firdda Kurnia pada vokal dan gitar, Euis Siti Aisyah pada drum, dan Widi Rahmawati pada bass, memersembahkan beberapa lagu dari band-band mancanegara, seperti System of a Down, Rage Against the Machine, Slipknot, sampai Linkin Park.

Tak hanya itu, mereka juga menyanyikan lagu-lagu milik mereka sendiri. Sebagai contoh "The Enemy of Earth is You" yang bisa dilihat pada video di bawah ini. 

"Biasanya kami tampil di depan metalhead. Pada head bang. Sekarang kami tampil di depan yang duduk-duduk cantik. Mungkin memberi aura tersendiri. Hehehe," ujar Firdda seusai bernyanyi.

Firdda menambahkan bahwa lagu-lagu milik mereka terinspirasi dari kegundahan mereka. Misalnya saja, VoB membawakan lagu-lagu milik mereka lagi, yang berjudul "School Revolution".
"Jadi ini bentuk marah kita terhadap sekolah. Menurut saya di Indonesia tuh udah saatnya menggunakan sistem pendidikan yang lebih menuju ke pembentukkan karakter sebagai manusia," ucap Firdda.

Sumber:http://entertainment.kompas.com/read/2017/08/19/210721110/simak-aksi-voice-of-baceprot-band-hijab-beraliran-metal

Voice of Baceprot, hijaber metal dari pelosok Garut yang angkat kritikan sosial

Tiga remaja dari desa di pelosok Garut, Jawa Barat, mengangkat berbagai kritikan sosial dan mencegah "pergaulan bebas" dengan aktif dalam band metal yang mereka namakan Voice of Baceprot (baceprot artinya bawel atau berisik dalam bahasa Sunda).
Firda Kurnia, Widi Rahmawati dan Euis Siti Aisyah membentuk band dengan bantuan pengasuh dan mantan guru mereka, Cep Ersa Eka Susila Satia, saat masih di Madrasah Tsanawiyah atau setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Februari 2014 di Desa Ciudian, Garut.
Banyak penentangan di lingkungan sekitar yang mereka hadapi saat band dengan lagu-lagu metal ini terbentuk.

"Yah, ngapain (main band), perempuan yang berhijab biasanya marawisan (marawis main gendang dalam rebana), bukannya main ngeband di atas panggung," cerita pemain bas gitar Widi tentang penentangan yang dihadapinya.
Meliani, melawan bully dengan jilbab dan musik metal
Dari Tanah Abang hingga London, lima hal unik tentang mukena Indonesia
Kontroversi di balik semakin populernya jilbab di dunia internasional
Pengumpulan dana bagi 'pahlawan' pembela remaja muslim capai Rp10 miliar lebih
Cep Ersa yang mengasuh mereka mengatakan, "Pada awalnya, hampir semua menentang, dari sekolah juga dan orang tua. Semula mereka bertujuh (dan sekarang tiga orang."
"Banyak yang menentang, termasuk guru ngaji mereka karena dianggap tak pantas, karena metal identik dengan hal-hal yang negatif karena penonton yang sering rusuh," kata Ersa.
Image caption"Yah, ngapain (main band), perempuan yang berhijab biasanya marawisan (marawis main gendang dalam rebana), bukannya main ngeband di atas panggung," cerita pemain bas gitar Widi.
"Mereka perempuan dan berjilbab dan mereka dibesarkan di daerah dengan pola didik yang tak merdeka, banyak hal-hal yang ditabukan dan dibatasi. Padahal di luar, mereka melakukan hal yang dilarang. Justru ketika mereka diberi ruang, mereka jauh lebih mengenal lebih diri sendiri," tambahnya.
Namun di tengah penentangan, dalam tiga tahun terakhir, remaja berusia 15 dan 16 tahun ini manggung dan ikut festival di sejumlah kota di Jawa Barat.
"Perasaan lega dan senang dan bangga juga karena bisa menyuarakan kegelisahan hati lewat karya dan semoga makin banyak remaja yang terinspirasi dan mengikuti jejak kami," kata Firda, vokalis sekaligus pemain gitar.
Sementara Siti merasa sangat terbantu dan terhindar dari apa yang ia sebut pengaruh negatif dalam pergaulan remaja.
"Penjajahan moral: pergaulan bebas"
"Saya merasa menemukan dunia yang baru, musik sudah menyelamatkan hidup saya, pergaulan remaja hancur banget dan saya terbebas dari pergaulan bebas remaja, gaeg motor, seks bebas, narkoba, tawuran," cerita Siti tentang hal-hal negatif di sekeliling yang mereka sebut "penjajahan moral."
Image captionVoice Baceprot manggung di sejumlah kota di Jawa Barat.
Kehidupan di pelosok, kata guru musik mereka, Cep Ersa, "jauh lebih mengkhawatirkan penjajahan moral di daerah dari pada di kota. Di kota lazim dan di kampung jadi tren...ketika jadi tren ini menjadi penjajahan moral (bagi remaja."
Di antara lagu-lagu berisi kritikan sosial yang mereka bawakan termasuk The School Revolution dan The Enemy of Earth is You.
"The Enemy of Earth is You mengkritik mereka yang mencitrakan mereka benar dalam segala bidang. Orang yang mencitrakan pelindung alam tapi merusak alam.
"Yang kedua, kaum agamawan, cendekiawan, yang ngomongin soal keadilan tapi mereka malah menebar kebencian, rasis. Malah mengobarkan perang atas nama kebenaran prinsipnya sendiri tidak mau menerima kebenaran orang lain," kata Ersa di balik makna lagu dalam bahasa Inggris itu.
Apa rencana tiga remaja yang gemar membawakan lagu-lagu metal ini?
"Saya ingin sukses di bidang musik. Rencana kita buat album tahun ini," kata Siti.
Sejumlah komentar dari akun Instagram Voice of Baceprot tentang klip-klip band mereka termasuk dari akun Ferypranata26 yang menyatakan, "Skill main musik udah cakep serius deh, tapi vokal ga diprioritaskan, mungkin jika gitaris belajar sedikit tentang vokal lalu pas bagian nyanyi permainan gitarnya dipersimple jauh lebih amazing dari pada cari vokal baru."
"Kita gak anti kritik ko. Bagi kita vocal adalah musik itu sendiri. Sebagai guitarist sekaligus vocalist menurut kita @peyfirddavob punya karakter yang menjadi salah satu soulnya VoB. Belajar dan berlatih tentunya harus tetap dilakukan," kata VoB menanggapi komentar itu.
Dan melalui Facebook BBC Indonesia, berbagai komentar yang masuk termasuk dari Ben Hard yang menulis, "Mantap...inovasi anak2 (anak-anak) jebolan Madrasah yg melihat dakwah bukan hanya dilingkungan masjid tapi juga keluar justeru ke kalangan anak muda demen musik irama rock atau metal yg keras," dan Wahyu Arlonsy yang menyatakan, "Selama tidak menyimpang dari keyakinan dan bisa menjaga sikap sebagaimana layaknya, Menurut Gue ini keren."


Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40095742

Menuju Pelatihan Jurnalistik Pelajar dan Pencanangan Kampung Literasi Komunitas Ngejah Sukawangi Singajaya Garut 25-26 November 2017

Sisi Lain (The Other Side of Metalism)
"Menuju Pelatihan Jurnalistik Pelajar dan Pencanangan Kampung Literasi Komunitas Ngejah Sukawangi Singajaya Garut 25-26 November 2017"
https://www.youtube.com/channel/UCu3Moj3Nl7RPrk3or5GDQEwhttp://j.gs/9rot
Memusikalisasi cerita hidup dengan segala keresahan di dalamnya itu bukanlah keputusan serta merta. Bukan pula pilihan yang hanya berpijak pada standar agar gaya semata. Ada kesadaran sebagai buah pergulatan hati dan pemikiran, bahwa hidup adalah pilihan bahwa menjadi apa dan siapa pun adalah pilihan. Selamanya menawar pilihan.
Saat berkenalan dengan Abah Erza kami tau, kami sedang dibelajarkan untuk mengerti memilih. Bukan sekedar berani, bukan hanya perkara mengikuti kata hati. Lalu dalam rentang waktu yang kami lalui, ternyata ada banyak hal tak biasa yang kami temukan, kami kenali dan mulai jadi bagian perjalanan diri. Kami menamainya "Sisi Lain"
Kami tau pentingnya sekolah, kami rasai betul nikmatnya belajar bersosialisasi pada miniatur masarakat tersebut.. Tapi kemudian kami menolak dijajah, menolak hanya dijustifikasi tanpa dikenali latar belakang dan kepribadian. Kami menolak diskriminasi, menolak ketidak adilan cara pandang dan perlakuan. Lantas kami memusikalisasinya dan terciptalah lagu "School Revolution"..
Itu adalah sisi lain.
Kami insafi pentingnya proses berdasarkan kalsifikasi umur. Kami pun menikmati fase indah menjadi remaja yang polos dan manut pada semua yang seragam, pada semua yang asal kebanyakan. Lalu kemudian kami mulai gelisah. Diri kian sering dirundung pertanyaan.. "untuk berkarya, untuk mengeksplorasi ide, untuk bersuara. Kenapa harus menunggu dewasa, kenapa musti menunggu tua? ".. Lagu "Age Oriented (let's be old) pun lahir dari rahim rasa muak pada penjegalan kreativitas hanya karena UMUR!
Satu persatu orang bertanya.. Yang lain ikut bertanya.. "kalian ngapain? Kalian kenapa? Kalian mau jadi apa?"
Kami tak menemukan kesederhanaan pada pertanyaan-pertanyan umum itu. Sebaliknya kami rasai itu teramat pelik, bahkan untuk sekedar dijawab..
.. tiga tahun kami hampir gak punya teman. Tapi entahlah kami malah merasa menikmati hidup tanpa berpusing dengan 'interpensi' tanpa doktrin harus seperti si begini atau si begitu. Tahun-tahun itu adalah tahun dimana kami banyak membaca dan berdebat tentang berbagai hal. Tahun dimana kami mulai faham ternyata orang-orang lebih banyak yang menyeregamkan diri atau memaksa orang lain untuk sama tanpa mau repot mengerti apalagi berpeluh belajar memahami. Menghargai.
Membaca.. Sedikit kemudian tauu.
Membaca.. Baca.. Ditanya.. Dipertanyakan.. Baca lagi.
Membaca.. Baca-baca..
"
"
" Gerakan Indonesia Membaca " sebagai sebuah lagu pun tercipta. "Itu metal? Itu keras? Itu pencitraan? Itu kok gitu? Itu.. Hahaha lho?"Ini SISI LAIN.. Ini The Other Side of Metalism..
Baca..

Diskusi UBUD WRITERS AND READER FESTIVAL



Hari itu, saya beserta Widi dan Sitti duduk melingkar bersama tante Niluh, tante Bonita, dan orang orang hebat lainya yang juga ikut serta dalam sesi diskusi UBUD WRITERS AND READER FESTIVAL hari minggu, tgl 29 oktober 2017 kemarin. Kita sempat berbagi pengalaman dan cerita tentang dunia yang di tekuni oleh pribadi masing masing. Diantara semua yang hadir, mungkin saya dan kedua kawan saya adalah yang paling muda disitu. Saya menengok ke arah Abah sambil senyum senyum tak jelas karena merasa takut dan agak minder. Tapi seperti yang Abah sering bilang pada saya, saya bisa menjadi hebat ketika menjadi diri saya sendiri. Ini hanya masalah kekuatan sugesti saja saya fikir. Satu persatu pertanyaan dari mc dan audience dapat saya jawab dengan jelas dan lancar. Hingga saya sampai di bagian "Presentasi Karya" pun masih lancar lancar saja. Kecuali mungkin kesulitan mengajak audience berkomunikasi. Karena sedari awal mereka hanya melongo menatap saya. Entah karena terpukau atau karena bingung (Bagaimana anak sekecil saya, dari kampung, bisa bicara dengan lancar dan percaya diri di depan orang orang kelas berat seperti sekarang). Saya di bantu oleh widi sempat menayangkan beberap slide yang berisi foto foto sejarah VoB. Ada beberapa foto yang membuat audience tertawa. Seperti foto saya saat naik pohon, dan foto VoB saat masih terdiri dari 15 orang. Ya mungkin mereka merasa bahwa ini benar benar diluar dugaan, sama seperti yang saya rasakan pada saat berdiri di depan mereka dan menjelaskan tentang foto foto di slide presentasi serta musik yang saya tekuni bersama Abah dan kawan kawan VoB. Siapa sangka, anak anak "Caludih" yang ada di foto foto itu kini bisa bergabung di acara bergengsi sekelas UWRF yang berskala Internasional. Ada rasa bahagia, ada rasa haru juga disana. Saya berfikir, coba saja disana  ada ibu saya. Pasti dia sangat bangga. Bisa melihat anaknya bisa berdiri tanpa harus "membungkuk-bungkuk". Membangun kebanggaan diri sebagai indonesia. Sebagai remaja yang berbeda dan merdeka. Semoga saya masih bisa berbagi cerita lagi di tahun depan.


#vob

Kategori

ads

Kategori